HIV (Human Immunodeficiency Virus) adalah virus yang merusak sistem kekebalan tubuh dan dapat berkembang menjadi AIDS jika tidak ditangani. WHO menyatakan bahwa HIV masih menjadi isu global, khususnya di negara berkembang.
Di Indonesia, menurut data Kemenkes 2023, terdapat 543.100 kasus HIV, dengan sekitar 36.000 kasus baru per tahun. Penularan utama terjadi melalui hubungan seksual berisiko, penggunaan jarum suntik tidak steril, dan dari ibu ke anak.
HIV menyerang sel darah putih, membuat penderitanya rentan terhadap infeksi serius. Virus ini menyebar lewat cairan tubuh seperti darah dan air mani, namun tidak melalui kontak kasual seperti pelukan atau berbagi makanan.
Terapi antiretroviral (ART) efektif mengendalikan HIV. Jika tidak diobati, infeksi akan berkembang menjadi HIV stadium lanjut, yang ditandai dengan jumlah CD4 rendah atau gejala berat.
Penyebab
HIV (Human Immunodeficiency Virus) menyebar melalui beberapa cara, di antaranya:
1. Melalui hubungan seksual tanpa kondom dengan orang yang terinfeksi HIV.
2. Pemakaian jarum suntik yang telah terkontaminasi.
3. Penularan dari ibu ke anak selama masa kehamilan, proses persalinan, atau melalui pemberian ASI.
4. Melalui transfusi darah yang mengandung virus HIV.
Tahapan Gejala HIV
Gejala HIV tidak selalu langsung terlihat dan berkembang bertahap dalam tiga fase utama:
1. Tahap Awal (Serokonversi)
Tahap ini terjadi dalam beberapa minggu setelah infeksi. Gejalanya menyerupai flu ringan, termasuk demam, sakit tenggorokan, ruam, nyeri otot dan sendi, pembengkakan kelenjar getah bening, serta kelelahan. Meskipun tidak spesifik, fase ini adalah tanda respons awal tubuh terhadap virus.
2. Tahap Laten (Asimptomatik/Klinis Laten)
Pada fase ini, penderita tidak menunjukkan gejala fisik. Meski tampak sehat, HIV tetap aktif memperlemah sistem imun secara perlahan. Tahapan ini bisa berlangsung 5–10 tahun atau lebih tanpa pengobatan.
3. Tahap Lanjut (AIDS)
Di tahap ini, sistem imun sudah sangat rusak dan gejala yang lebih serius muncul, seperti:
1. Demam berkepanjangan dan keringat malam,
2. Penurunan berat badan yang drastis tanpa sebab jelas,
3. Kelelahan terus-menerus,
4. Diare kronis,
5. Infeksi jamur di mulut, tenggorokan, atau alat kelamin,
6. Luka atau bercak ungu pada kulit,
7. Gangguan sistem saraf, termasuk kebingungan, depresi, atau kehilangan memori.
Komplikasi HIV
Jika tidak diobati, HIV dapat menyebabkan infeksi berat seperti:
1. Tuberkulosis (penyebab utama kematian pada ODHA),
2. Meningitis kriptokokus,
3. Infeksi bakteri serius,
4. Kanker seperti limfoma dan sarkoma Kaposi,
5. serta memperburuk kondisi lain seperti hepatitis B/C dan mpox (cacar monyet).
Faktor Risiko Penularan HIV
Penularan HIV dapat dipicu oleh sejumlah perilaku berisiko dan kondisi tertentu. Risiko meningkat pada individu yang melakukan hubungan seksual tanpa kondom, baik secara vaginal maupun anal, terutama jika disertai infeksi menular seksual (IMS) seperti sifilis atau herpes. Penggunaan narkoba atau alkohol saat berhubungan seksual juga memperbesar kemungkinan tertular HIV.
Berbagi jarum suntik, menerima transfusi darah yang tidak aman, serta menjalani prosedur medis dengan alat yang tidak steril menjadi jalur penularan lain yang signifikan. Pada tenaga medis, luka tertusuk jarum dari pasien yang terinfeksi juga dapat menjadi sumber risiko.
Strategi Pencegahan HIV
Pencegahan merupakan kunci dalam mengendalikan penyebaran HIV. Beberapa langkah penting meliputi:
1. Seks Aman – Penggunaan kondom secara konsisten terbukti efektif menurunkan risiko penularan HIV dan IMS lainnya.
2. Hindari Berbagi Alat Suntik – Larangan keras terhadap berbagi jarum atau alat suntik mencegah penularan melalui darah.
3. Tes dan Konseling HIV – Pemeriksaan rutin dan konseling sangat dianjurkan, terutama bagi individu dengan risiko tinggi.
4. Peningkatan Edukasi – Penyuluhan mengenai HIV, cara penularan, dan pencegahannya perlu diperluas ke berbagai lapisan masyarakat.
5. PrEP (Profilaksis Pra-Paparan) – Obat pencegahan ini efektif bagi individu yang berisiko tinggi tertular HIV, seperti pasangan dari ODHA.
6. Penanganan HIV pada Ibu Hamil – Terapi antiretroviral bagi ibu hamil yang terinfeksi mampu menurunkan risiko penularan ke janin.
7. Sterilisasi Alat Medis dan Pribadi – Pastikan penggunaan alat medis, tato, atau tindik dilakukan dengan peralatan steril.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar